WELLCOME

SELAMAT DATANG DI RUMAH DUNIA MAYA AHMED AL_FALAKHI

Selasa, 28 April 2009

FRAKTUR


DEFINISI :

§ Hilangnya kesinambungan substansi tulang dengan atau tanpa pergeseran fragmen-fragmen fraktur.

§ Terputusnya hubungan/kontinuitas jaringan tulang.

SEBAB :

a. Trauma :

· Langsung (kecelakaan lalulintas)

· Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri/duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang )

b. Patologis : Metastase dari tulang

c. Degenerasi

d. Spontan : Terjadi tarikan otot yang sangat kuat.

JENIS FRAKTUR

a. Menurut jumlah garis fraktur :

· Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)

· Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)

· Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas)

b. Menurut luas garis fraktur :

· Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung)

· Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)

· Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang)

c. Menurut bentuk fragmen :

· Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang)

· Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)

· Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :

· Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 :

I. Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka <1>

II. Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar, luka >1 cm.

III. Luka besar sampai ± 8 cm, kehancuran otot, kerusakan neurovaskuler, kontaminasi besar.

· Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar)

TANDA KLASIK FRAKTUR

  1. Nyeri
  2. Deformitas
  3. Krepitasi
  4. Bengkak
  5. Peningkatan temperatur lokal
  6. Pergerakan abnormal
  7. Ecchymosis
  8. Kehilangan fungsi
  9. Kemungkinan lain.

PATOFISIOLOGI

Fraktur

Periosteum, pembuluh darah di kortek

dan jaringan sekitarnya rusak

· Perdarahan

· Kerusakan jaringan di ujung tulang

Terbentuk hematom di canal medula

Jaringan mengalami nekrosis

Nekrosis merangsang terjadinya peradangan, ditandai :

1. Vasodilatasi

2. Pengeluaran plasma

3. Infiltrasi sel darah putih

TAHAP PENYEMBUHAN TULANG

1. Haematom :

§ Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan haematom

§ Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat

§ Haematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.

2. Proliferasi sel :

§ Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur

§ Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.

§ Beberapa hari di periosteum meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujung fraktur.

3. Pembentukan callus :

§ Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan terbentuk callus.

§ Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan callus.

§ Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter tulang melebihi normal.

§ Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan, sementara itu terus meluas melebihi garis fraktur.

4. Ossification

§ Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukan garam kalsium dan bersatu di ujung tulang.

§ Proses ossifikasi dimulai dari callus bagian luar, kemudian bagian dalam dan berakhir pada bagian tengah

§ Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.

5. Consolidasi dan Remodelling

§ Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan osteoklast.

KOMPLIKASI

1. Umum :

§ Shock

§ Kerusakan organ

§ Kerusakan saraf

§ Emboli lemak

2. D i n i :

§ Cedera arteri

§ Cedera kulit dan jaringan

§ Cedera partement syndrom.

3. Lanjut :

§ Stffnes (kaku sendi)

§ Degenerasi sendi

§ Penyembuhan tulang terganggu :

o Mal union

o Non union

o Delayed union

o Cross union

TATA LAKSANA

1. Reduksi untuk memperbaiki kesegarisan tulang (menarik).

2. Immobilisasi untuk mempertahankan posisi reduksi, memfasilitasi union :

§ Eksternal → gips, traksi

§ Internal → nail dan plate

3. Rehabilitasi, mengembalikan ke fungsi semula.



ASUHAN KEPERAWATAN


1. Riwayat perjalanan penyakit.

2. Riwayat pengobatan sebelumnya.

3. Pertolongan pertama yang dilakukan

4. Pemeriksaan fisik :

§ Identifikasi fraktur

§ Inspeksi

§ Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)

§ Observasi spasme otot.

5. Pemeriksaan diagnostik :

§ Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)

§ RÖ

§ CT-Scan

6. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)

§ Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :

a. Osteomyelitis acut

b. Osteomyelitis kronik

c. Osteomalacia

d. Osteoporosis

e. Gout

f. Rhematoid arthritis




PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


DATA SUBYEKTIF

§ Data biografi

§ Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan, deformitas, ROM, gangguan sensasi.

§ Cara PQRST :

o Provikatif (penyebab)

o Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)

o Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)

o Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)

o Timing (kapan mulainya)

§ Pengkajian pada sistem lain

o Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.

o Riwayat dirawat di RS

o Riwayat keluarga, diet.

o Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan

o Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.

DATA OBYEKTIF

§ Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot

§ Bandingakan dengan sisi lainnya.

§ Pengukuran kekuatan otot (0-5)

§ Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.

§ Kyposis, scoliosis, lordosis.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. X-ray dan radiography
  2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen). Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan diperiksa.
  3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau mengevaluasi bone graf).
  4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada anak-anak sebelum operasi epifisis).
  5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
  6. MRI
  7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
  8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)

MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI

  1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.

· Berdampak luas pada aspek psikososial klien.

· Klien membutuhkan imobilisasi → menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi

· Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :

- Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)

- Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)

- Lutut (ekstensi)

- Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)

  1. Nyeri; tindakan keperawatan :

· Merubah posisi pasien

· Kompres hangat, dingin

· Pemijatan

· Menguragi penekanan dan support social

· Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :

- Kejadian sebelum terjadinya nyeri

- Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul

- Penyebaran nyeri

- Lamanya nyeri

- Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan

- Sumber nyeri

- Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.

  1. Spasme otot

· Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)

· Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.

· Tindakan keperawatan :

a. Rubah posisi

b. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut

c. Berikan ruangan yang cukup hangat

d. Hindari pemberian obat sedasi berat → dapat menurunkan aktivitas pergerakan selama tidur

e. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program

INTERVENSI

1. Istirahat

· Istirahat adalah intervensi utama

· Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

· Pemasangan bidai/gips.

1. Kompres hangat

· Rendam air hangat/kantung karet hangat

· Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan

· Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :

o Perlunakan jaringan fibrosa

o Membuat relaks otot dan tubuh

o Menurunkan atau menghilangkan nyeri

o Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.

2. Kompres dingin

· Metoda tidak langsung seperti cold pack

· Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic

· Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma

· Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot

· Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis

· Tidak sampai > 30 menit.

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN
Bronkitis Kronis pada Anak




Ahmad Falakhudin
06.002

AKADEMI KEPERAWATAN

Pemerintah Kabupaten Ponorogo

2008/2009






Konsep Dasar Penyakit


Bronkitis pada Anak

1. Pengertian

Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 )
Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994)
Sebagai penyakit tersendiri, bronkitis merupakan topik yang masih diliputi kontroversi dan ketidakjelasan di antara ahli klinik dan peneliti. Bronkitis merupakan diagnosa yang sering ditegakkan pada anak baik di Indonesia maupun di luar negeri, walaupun dengan patokan diagnosis yang tidak selalu sama.(Taussig, 1982; Rahayu, 1984)
Kesimpangsiuran definisi bronkitis pada anak bertambah karena kurangnya konsesus mengenai hal ini. Tetapi keadaan ini sukar dielakkan karena data hasil penyelidikan tentang hal ini masih sangat kurang.

2. Review Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan

Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme .

a. Hidung

Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara.

b. Faring

Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.

c. Laring

Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.

d. Trakea

Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.

e. Bronkus

Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 – 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli.

f. Paru-paru

Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.


3. Klasifkasi

a. Bronkitis Akut

Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran napas akut (ISNA) yang sering dijumpai

b. Bronkitis Kronik dan atau Batuk Berulang

Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah kedaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya (KONIKA, 1981). Dengan memakai batasan ini maka secara jelas terlihat bahwa Bronkitis Kronik termasuk dalam kelompok BKB tersebut. Dalam keadaan kurangnya data penyelidikan mengenai Bronkitis Kronik pada anak maka untuk menegakkan diagnosa Bronkitis Kronik baru dapat ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab lainnya dari BKB.

4. Etiologi

Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.
Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut :

  1. Spesifik

1. Asma

2. Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis).

3. Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur.

4. Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis.

5. Sindrom aspirasi.

6. Penekanan pada saluran napas

7. Benda asing

8. Kelainan jantung bawaan

9. Kelainan sillia primer

10. Defisiensi imunologis

11. Kekurangan anfa-1-antitripsin

12. Fibrosis kistik

13. Psikis

  1. Non-spesifik

1. Asap rokok

2. Polusi udara

5. Patofisiologi

Virus (penyebab tersering infeksi) - Masuk saluran pernapasan - Sel mukosa dan sel silia - Berlanjut - Masuk saluran pernapasan(lanjutan) - Menginfeksi saluran pernapasan - Bronkitis - Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir - Pilek 3 – 4 hari - Batuk (mula-mula kering kemudian berdahak) - Riak jernih - Purulent - Encer - Hilang - Batuk - Keluar - Suara ronchi basah atau suara napas kasar - Nyeri subsernal - Sesak napas - Jika tidak hilang setelah tiga minggu - Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama) (Sumber : dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981)

6. Tanda dan gejala

Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan gejala yang ada yaitu

a. Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah

b. Keadaan umum baik, tidak tampak sakit, tidak sesak

c. Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis

d. Pada paru didapatkan suara napas yang kasar

Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama, yaitu :

a. Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan klien kurang istirahat

b. Daya tahan tubuh klien yang menurun

c. Anoreksia sehingga berat badan klien sukar naik

d. Kesenangan anak untuk bermain terganggu

e. Konsentrasi belajar anak menurun

7. Komplikasi

a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik

b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia

c. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi

d. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis

e. Gagal jantung kongestif

f. Pneumonia

8. Pemeriksaan Penunjang
a.
Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia
b.
Laboratorium : Leukosit > 17.500.

9. Penatalaksanaan

a. Tindakan Perawatan

1. Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan lender

2. Sering mengubah posisi

3. Banyak minum

4. Inhalasi

5. Nebulizer

6. Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu diberikan minum susu atau makanan lain

b. Tindakan Medis

1. Jangan beri obat antihistamin berlebih

2. Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bakterial

3. Dapat diberi efedrin 0,5 – 1 mg/KgBB tiga kali sehari

4. Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif

10. Pencegahan

Menurut Ngastiyah (1997), untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah parah.

a. Membatasi aktivitas anak

b. Tidak tidur di kamar yang ber AC atau gunakan baju dingin, bila ada yang tertutup lehernya

c. Hindari makanan yang merangsang

d. Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan mandikan anak dengan air hangat

e. Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan

f. Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi


Konsep Asuhan Keperawatan

A. Dasar data pengkajian pasien

1. Aktivitas/istirahat

Gejala

¨ Keletihan,kelelahan

¨ Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas karena sulit bernafas

¨ Ketidakmampuan untuk tidur, perlu dalam posisi duduk tinggi

¨ Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan

Tanda

¨ Keletihan

¨ Gelisah

¨ Insomnia

2. Sirkulasi

Gejala

¨ Pembengkakan pada ekstremitas bawah

Tanda

¨ Peningkatan TD

¨ Takikardi

¨ Distensi vena jugularis

¨ Bunyi jantung redup(karena cairan di paru-paru)

¨ Warna kulit normal atau sianosis

3. Makanan/cairan

Gejala

¨ Mual/muntah

¨ Nafsu makan buruk

¨ Ketidakmampuan makan karena distres pernafasan

¨ Peningkatan berat badan(penumpukan cairan)

Tanda

¨ Turgor kulit buruk

¨ Edema

¨ Berkeringat

¨ Palpitasi abdomial dapat menunjukkan hepatomegali

4. Higiene

Gejala

¨ Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari

Tanda

¨ Kebersihan buruk,bau badan

5. Pernafasan

Gejala

¨ Takipnea (barat saat aktivitas)

¨ Batuk menetap dengan sputum terutama pagi hari

¨ Warna sputum dapat hijau, putih, atau kuning dan dapat banyak sekali

¨ Riwayat infeksi saluran nafas berulang

¨ Riwayat terpajan polusi(rokok dll)

Tanda

¨ Lebih memilih posisi fowler/semi fowler untuk bernafas

¨ Penggunaan otot bantu nafas

¨ Cuping hidung

¨ Bunyi nafas krekel(kasar)

¨ Perkusi redup(pekak)

¨ Kesulitan bicara kalimat(umumnya hanya kata-kata yang terputus-putus)

¨ Warna kulit pucat,normal atau sianosis

¨ Clubing finger(jari tabuh)

6. Interaksi sosial

Gejala

¨ Hubungan ketergantungan

¨ Kurang sistem pendukung

¨ Kurangnya dukungan dari orang terdekat

¨ Penyakit lama

Tanda

¨ Ketidakmampuan mempertahankan suara karena distres pernafasan

¨ Keterbatasan mobilitas fisik

B. Pemeriksaaan diagnostik

1. Rongent

Peningkatan tanda bronkovaskuler

2. Tes fungsi paru

Memperkirakan derajad disfungsi paru

3. Volume residu

Meningkat

4. GDA

Memperkirakan progresi penyakit(Pa02 menurun dan PaCO2 meningkat atau normal)

5. Bronkogram

Pembesaran duktus mukosa

6. Sputum

Kultur untuk menentukan adanya infeksi,identifikasi patogen

7. EKG

Disritmia artrial

8. EKG latihan

Membantu dalam mengkaji derajad disfungsi paru untuk program latihan

C. Prioritas perawatan

1. Mempertahankan patensi jalan nafas

2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas

3. Meningkatkan masukan nutrisi

4. Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi

5. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan

D. Diagnosa perawatan

1. Bersihan jalan nafas tak efektif b/d peningkatan produksi sekret

2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen

3. Resti infeksi b/d proses penyakit kronis

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kurang informasi

E. Intervensi

1. Bersihan jalan nafas tak efektif b/d peningkatan produksi sekret

Kemungkinan dibuktikan oleh

¨ Pernyataan kesulitan bernafas

¨ Perubahan kecepatan pernafasan

¨ Bunyi nafas tak normal

¨ Batuk menetap dengan atau tanpa sputum

Kriteria evaluasi

¨ Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas jelas/bersih

¨ Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas,misal batuk efektif dan mengeluarkan sekret

Intervensi

Mandiri

1. Auskultasi paru(catat adanya bunyi nafas)

R/ mengetahui adanya bunyi nafas akibat mukus

2. Kaji frekuensi pernafasan

R/ pernafasan dapat melambat dan frekuansi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi

3. Catat adanya dipsnea(keluhan lapar udara,gelisah,ansietas,penggunaan otot bantu)

R/ mengetahui tingkat respon individu terhadap kekurangan oksigen

4. Pertahankan polusi lingkungan minimum

R/ meningkatkan kualitas oksigen lingkungan untuk ambilan nafas

5. Bantu latihan nafas abdoment atau bibir

R/ memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebaklan udara

Kolaborasi

1. Berikan obat sesuai indikasi

o Bronkodilator(epineprin, albuterol, isoetarin)

o Xantin(aminofilin, oxtrifilin, teofilin)

o Kromolin

o Anti mikrobial

o Analgesik

R/ megurangi efek penyakit penyebab

2. Berikan humidifikasi tambahan(nebulizer)

R/ kelembaban udara menurunkan kekentalan sekret, mempermudah pengeluaran dan dapat membantu menurunkan/mencegah pembentukan mukosa tebal pada bronkus

3. Bantu pengobatan pernafasan misal fisioterapi dada

R/ drainase postural dan perkusi bagian penting untuk membuang banyaknya sekresi

4. Awasi grafik GDA, nadi oksimetri, foto dada

R/ membuat dasar untuk pengawasan kemajuan/kemunduran proses penyakit dan komplikasi